Banyak sekali uneg-uneg di hati dan kepala yang meminta dikeluarkan dengan bijaksana, bukan dengan amarah atau muka bete yang juga pasti bikin orang lain ikutan bete.
“gue bete liat lu bete”
Sadar bange, bahwa apa yang tampak pada wajah kebanyakan berasal dari hati yang ruwet dan pikiran yang kusut, seperti tengah mengurai benang masalah di negeri ini *sok tua banget*
Gak pengen jadi lemah dan renta, gak pengen mundur atau lari ke mana pun, Ingin tetap ada disini dengan wajah tangguh dan berani. Ingin jadi seperti apa yang diinginkan. Dan percaya bahwa perbedaan itu menyenangkan, bukan malah mengkusutkan. Seringnya bertanya, ada apa pada diri sendiri. Lalu bingung dan seolah merasa hilang (jadi ingat lagu Hilang Efek Rumah Kaca).
Saya bingung akan sampai kapan terus mengurai benang kusut yang bahkan ujungnya seperti menyatu dengan ujung masalah lain. Saya bingung harus bagaimana mengurainya, bagaimana menjabarkannya dengan bahasa sederhana yang bahkan bayi yang menangis pun bisa terdiam bahkan tertawa. Ini masalah baru. bagaimana pula bayi yang menangis bisa tertawa kalau mendengar penjelasan sederhana tentang masalah yang seperti wajah orang di PHK atau korban PHP. Manalah dia paham kalau urusannya selama ini masih seputar menangis, kelaparan dan ketidaknyamanan.
Hati saya makin ruwet menyadari banyaknya buku bertebaran di kamar dan dimana pun menunggu diselesaikan untuk dibaca. Pikiran saya kusut sementara banyak sekali hal yang tidak ingin dipikirkan malah mengganggu. Inginnya pikiran kusut dibuang saja ke angkasa, dimana tidak ada kepalsuan…
Ah, saya sedang apa sih?
Halo Riana. Ya, ini aku Alkadri, yang nulis di City of Wood and Rain :)
Bahwa sebuah Tugas akhir itu bukan hanya sekedar syarat untuk lulus. Dia mengajarkan banyak hal pada kita. Mengajarkan rasa cinta, mengajarkan tanggung jawab, mengajarkan kerja keras, mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan suatu permasalahan. Oh ya dan bagaimana membuat sesuatu menjadi bermasalah tentunya. Seperti dulu mencari-cari masalah agar bisa diangkat menjadi judul tugas akhir. Hahaha.
(Source: dewani)
(via kurniawangunadi)
(Source: isnidalimunthe)
Ini adalah tulisan yang berangkat dari sebuah pernyataan di lini masa milik Andina Avika beberapa waktu yang lalu. Ada salah satu menikah jenis baru, yaitu menikahi almamater. Tidak hanya itu, lebih spesifik lagi adalah menikahi almamater-jurusan-dan profesi.
Semakin kesini, semakin…
Sabtu tanggal 18 mei kemarin adalah hari tersesuatu dalam masa-masa semester 6 ini. Turun lapang pendidikan gizi ke SMA. Rasanya? Dahsyat deh. Gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, haha….intinya mah seru, berasa muda dan juga penuh coding (kata Afina) alias kode.
Ada anak cowok, sekitar 16tahunan lah manggil saya
A : “Kak…kak…”
S : “Ya, ada apa?”
A : “Ini gak perlu nyantumin nomor handphone kak?” (sambil cengar-cengir, nunjuk ke kertas pre-test yang baru dibagiin)
S : (-__________-) “Hahaha…sok aja cantumin”
Kemudian sesi materi yang isinya tentang memantau berat badan dan beraktivitas fisik sebagai bagian dari Pedoman Gizi Seimbang (PGS).
L : “Jadi aktivitas fisik itu gak cuma olahraga ya…nyuci, nyetrika juga. Mancing juga…”
A : “Mancing apa nih kak?”
L : “Ya…mancing”
A : “Mancing di hati kakak boleh gak kak?”
L :”Hahaha….”
Tim Penyuluh : (-________________-)
***
Tuh kan, bener kan? Penuh coding. haha…tapi seru deh. Anak-anaknya walau banyak yang malu-malu, tapi ada juga yang kooperatif buat main chabucha dan sampai akhir pada ketagihan chabucha. Malah kaka asprak dan tim penilai juga pengen ikutan chabucha.
Kenapa saya bilang sesuatu? karena aslinya turlap ini diadakan dadakan sekali. Hari jumat siang, saya ditelpon salah seorang asprak yang niatnya datang ke SMA untuk ngebatalin turlap. Karena jadwal yang bentrok yang stres banget gak bisa cari hari lain. Shock waktu dikabarin kudu turlap sabtu siangnya. Untungnya kita udah prepare jauh-jauh hari konsepan utamanya (dibantu praktikum juga) dan media yang dibawa gak terlalu ribet (ke anak SMA ini kan?)
Singkat cerita, setelah post-test, nyerahin sertifkat ke pihak sekolah dan foto-foto, kita pada cabut. Tapi tetep untuk penilai dan penyuluh plus asprak dilanjutkan dengan sesi foto di luar…haha…
Pernah ngerasa dibutuhin sama seseorang? Itu yang kami rasakan waktu awal banget survei tempat lapang. Bapaknya malah bilang untuk sering-sering datang penyuluhan which is sukses bikin saya pengen nangis terharu dan langsung ngebakar semangat penyuluhan =D
Sekian